Asia · Backpacker · SUMBAWA - Indonesia

Sehari Semalam, Pulau Moyo – Sumbawa

Sunset terakhir di Pulau Moyo, itu yang kecil disana adalah perahu nelayan yang membawa kami ke perairan sekitar Moyo.
Sunset terakhir di Pulau Moyo, Sabtu (16/5/15). Perahu kecil disana adalah perahu nelayan yang membawa kami ke perairan sekitar Moyo. Bang Jun, yang jadi nahkodanya menjauh dari daratan supaya kapal nggak karam. I’m sorry… this picture, maybe not the best capture sunset from me… zzzzzz

Bonus dari perjalanan saya bersama 3 rekan mendaki Gunung Rinjani selain bisa mampir ke Pulau Kenawa adalah menyambangi Pulau Moyo. Sehari semalam lamanya, terkesan waktu yang singkat di penghujung liburan yang full satu minggu. Dear God, thank u so much…. secara keseluruhan ini quality trip banget buat saya di tahun ini ๐Ÿ™‚

Teringat dulu, waktu kunjungan saya ke Lombok yang ke-2 di tahun 2011, penduduk lokal sana kasih rekomendasi, bocoran soal Pulau Moyo. Tahun itu adalah saat dimana lagi heboh-hebohnya kabar Duchess of Cambridge a.k.a Kate Middleton sama Pangeran Wiliams bulan madu di pulau itu. Pulau Moyo yang juga pulau bulan madunya Pangeran Charles dan Alm. Putri Diana (mama papanya).

Disana ikut terkenal air terjun Lady Di, tempat Putri Diana pernah private shower time. Setahu saya Pangeran Charles sama Puteri Diana itu menikah di tahun 1983-an, tentunya beda kondisi Air Terjun Mata Jitu saat itu dengan yang saya kunjungi sekarang di tahun 2015. Mungkin nggak ada jalan bersemen tempat motor kami lewat, mungkin masih sangat sepi dari rumah penduduk dan belum ada ojek motor tentunya. Hahhaaha ๐Ÿ˜€

Disebuah lorong, kami menemukan ada kandang sapi... mooooo photo by : Harry Iswahyudi
Disebuah lorong, kami menemukan ada kandang sapi… mooooo

Sebenarnya cerita ajaibnya ke Moyo, yang tak direncana, diluar dari skenario itinerary itu, rejeki kami untuk ketemu teman-teman baru.

Yup! jadi setelah exsplore Pulau Kenawa dan kembali ke Pelabuhan Pato Tano di Sumbawa dan lagi kepusingan untuk cari sewa mobil untuk ke Sumbawa Besar, kami justru ketemu kenalan orang lokal.

Lagi nunggu mobil sewaan, terus ternyata nggak cocok harga dan nggak ber-AC, sampai akhirnya nunggu bus buat ke Sumbawa Besar. Sambil makan ice cream, ngemil chitato di depan Indomaret … disapa duluan sama Bang Rio yang juga lagi mampir beli sesuatu, terus kami dikasih nomor temannya Bang Ian dan Esthy di Sumbawa.

“Hubungin aja nih nomor ini,” katanya…. wahhh… asik lega abis itu, karena sesampainya di terminal bus kami dijemput mbak Esty pakai motor terus diarahin untuk sewa motor aja ke Hostel tempat menginap.

Sebelumnya dengan durasi sekitar 2 jam perjalanan, kami baru ngeh kalau untuk ke Sumbawa Besar memang idealnya memakai bus sedang bertarif Rp. 30 ribu ini. Yang kalo kamu perhatiin di atas bus pasti penuh barang bawaan penumpangnya, pemandangan yang jarang banget ada di kota, hahaha saya lagi di pedalaman, rasanya gimana ya …unik lihat perilaku yang nggak biasa ini.

2110062
Di sekitaran perairan Pulau Moyo, kami mampir ke Takasigili. Sebuah gundukan karang-karang yang kadang surut dan pasang di waktu tertentu. Capture foto : by Nahkoda Kapal Nelayan kami, enak nih nahkodanya kalo disuruh juga inisiatif ๐Ÿ™‚

Pantes juga kalau untuk rental mobil agak jarang, bus menuju Sumbawa Besar ada banyak dan sering. Backpacker-an di Sumbawa jangan takut, karena ada banyak bus murah atau ojek kalo nggak bisa rental mobil.

Untuk mencapai Pulau Moyo, dari Sumbawa Besar kita harus ke Ai Bari yang merupakan pelabuhan kecil. Atas rekomendasi Bang Ian kami akhirnya sewa kapal nelayan kecil yang memang sih akan lebih lama sampainya sekitar 3-4 jam untuk ke perairan Moyo (tergantung cuaca dan ombak). Kita di atas kapal sampai bosan.

Tiga puluh menit pertama berlalu,…… satu jam pertama masih terlihat bersemangat,….. lalu dua jam berikutnya kepanasan… hahaha. Dari pakai body lotion, ngabisin buah sama camilan, terus daripada kejemur matahari Sumbawa yang ada sembilan akhirnya pakai tutupan kain Bali. Disini hidung dan wajah sudah mulai gosong… zZzZzzzZZZzzz.

Sampai juga di Takasigili, disekitarannya kami snorkling…memang jauh tempatnya dengan perahu kecil yang melawan ombak lautan jelas butuh 3 jam itu sangat wajar. Dalam laut Sumbawa memang unik, bagi saya pribadi karangnya terbilang masih terjaga.

Di salah satu sudut pantai Pulau Moyo, photo by : Harry Iswahyudi
Di salah satu sudut pantai Pulau Moyo

Masih banyak karang yang baru tumbuh, ikan-ikan yang variatif…. cuma berhubung ombak dan arus laut yang besar (padahal masih jam 12-an siang), saya ngeri. Perasaan sih udah berenang jauh, tapi nggak sampai-sampai sama kejadiannya seperti di Kepulauan Seribu, enaknya temen-temen yang jago berenang, tanpa pelampung.

Di Takasigili, gundukan karang kasar yang sudah mati itu bisa surut bisa pasang, tergantung, nah ini uniknya… Lalu sehabis dari Takasigili sekalian makan siang, sekalian memang akan bermalam di Pulau Moyo kami cari penginapan.

Tinggal di rumah penduduk, feels like home terutama ibu yang punya rumah ramah banget seperti ibu sendiri. Dia nggak cuek, kamar kami aja dikasih kelambu biar nggak ada nyamuk, terus digembok.

IMG_6410.JPG
Moyo, aliran air dari Mata Jitu…. asli warnanya nggak di edit fotoshop.

Cuma sayang banget ya, di desa sekitar Pulau Moyo rumah-rumah baru yang dibangun, termasuk homestay tempat kami menginap cenderung modern, bukan rumah panggung asli Sumbawa yang kalau mau masuk ada tangga kayunya. Hmmm suasana homey tapi belum mendukung environment yang lokal sekali.

Makan siang disekitaran guesthouse juga mirip kalau lagi makan di rumah sendiri, makanan rumahan mirip banget sama masakan nyokap di rumah, ayam cabe rica-rica.

Tambahannya, pesen juga es campur di siang hari bolong yang panas…. abis naik gunung maklum, di gunung nggak ada tukang es. ๐Ÿ˜€ Jadi makanan asli sini apa ya??? *nggak kepikiran lagi, yang penting kenyang*

Info dari ibu pemilik guest house, kami sewa motor buat ke Mata Jitu atau Air Terjun Lady Di. Kelihatannya nggak masuk akal, sekali sewa per motor dengan abang ojeknya Rp. 100 ribu.

Tapi…. ternyata ini memang avordable dibanding jalan kaki dan melihat medan pencapaian dengan berkendara motor disana saya saranin memang menyewa ojek. Apalagi saya sama temen-temen kan habis capek naik turun gunung, terus kita mengejar waktu. Gapapa ya backpacker hedon dikit ๐Ÿ˜€

Meski memang beberapa pengunjung lain ada yang trekking, saya sih suka jalan, cuma berhubung mengejar waktu kan. Luar biasanya itu ojek motor kami menembus air luapan, nyebrang sungai, kirain cuma mencapai Mata Jitu aja yang jalanannya banyak rusak meski beberapa ratus meter dengan cor dan semen, nggak kebayang melewati jalan-jalan itu kalau harus nyetir sendiri.

SONY DSC
Walau cuma sebentaran nyebur disini. . . Bonusnya tempat ini sepi, pas kami datang pengunjung lain pulang, terus kami pulang pengunjung lain datang.

Air terjun Mata Jitu ternyata memang bening dan berwarna hijau kebiruan, airnya juga segar, beruntung bisa sebentar menyeburkan diri disana. Oke jadi rasa penasaran saya sudah kejawab, ke Pulau Moyo dan mampir ke air terjun Lady Di. Pulau Moyo yang relatif sepi, seketemunya pengunjung lain juga penduduk dari Sumbawa Besar.

Menghemat waktu kami ke lokasi air terjun lainnya, dan saya lupa namanya apa, tapi ini air terjun rame banget karena ada ayunan buat mainan. Terus menjelang peradaban matahari jatuh, kembali ke laut kami cari sunset…. nggak ke Takasagili sesuai rencana semula, tapi mampir ke sebuah pantai sekitaran Pulau Moyo yang punya butiran pasir unik campuran warna hitam seperti biji wijen dan pasir putih.

 https://www.instagram.com/p/41jHV7EC1q/

Malam itu waktu kami nginap di Moyo juga unik, soalnya pas banget lagi ada undangan kendurian nikahan penduduk setempat.

Anehnya lagi kendurian di Sumbawa bukan pengantinnya yang nungguin tamu, tapi ini tamu nungguin mereka. Terus semua pedagang kumpul di sebuah lapangan tempat pengantin menghelat pesta, pedagangnya…mereka jualan.

Jadi makan malam kami saat itu adalah bakso dengan kuah saos yang kalo diteliti sama BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) itu pasti nggak lulus tes warna alias ada kandungan rodamin. Baksonya juga aneh nih, pakai telor ๐Ÿ˜€ tapi so so lah daripada laper.

How to get there ?????

1. Dari Lombok kamu bisa menyebrang ke Sumbawa melalui Pelabuhan Kahyangan menuju Pelabuhan Pato Tano dengan kapal fery yang sekitar 1 jam sekali jalan, harga tiket sekitar Rp. 30.000

2. Setelah sampai di Pelabuhan Pato Tano ada bus sedang yang bisa membawa kamu menuju Sumbawa Besar, perjalanan sekitar 2 jam. Ongkos bus Rp. 30.000 per orang

3. Dari Sumbawa Besar kamu harus ke Ai Bari tempat menyebrang ke pulau Moyo dan Satonda. Jaraknya cukup jauh dari Sumbawa Besar sekitar 1 jam, kamu bisa menyewa mobil (tapi agak susah ya, harus kenal orang lokal). Alternatif lain adalah menyewa sepeda motor.

IMG_6455
Sebuat site di pulau Moyo yang bagus banget untuk foto. Di sebelah pagar-pagar tanaman ini hewan ternak sapi lagi sibuk mooooo….

Bolehlah contact teman kenalan disana Bang Ian 085238575444 yang bisa bantu info tentang Sumbawa. Ohya dia juga aktif di komunitas Adventurous Sumbawa yang lagi bergerak mengenalkan keindahan pariwisata Sumbawa, pasti senang bisa bantu.

4. Menyebrang ke Pulau Moyo dari Ai Bari memerlukan transportasi perahu nelayan. Dengan jarak tempuh sekitar 3 jam biaya sewa kapal sederhana yang hanya muat 5 awak penumpang (termasuk nahkoda) itu memerlukan biaya sekitar Rp.700.000 (pulang pergi).

5. Sesampainya di Pulau Moyo, tentu saja perlu menginap. Pilihannya adalah guest house, rata-rata bertarif Rp. 200.000 per kamar untuk 2 orang. Menginap di rumah penduduk rasanyanya lebih seperti di rumah sendiri apalagi kalau ibu yang punya rumah baik banget.

Kalau mau ke Moyo kamu bisa contact Pak Mahendra 085339932815 (ini rekomendasi teman di Sumbawa) untuk sewa guest house-nya. Tapi ketika sampai Moyo nggak ada lagi kamar, masyarakat disana menawarkan untuk bisa menginap di rumah warga lainnya yang disewakan.

6. Untuk ke Air Terjun Lady Di atau yang sebenarnya disebut Air Terjun Mata Jitu, kita bisa melakukan sesi trekking selama 1 jam lebih. Tapi berhubung menghemat waktu saya sama ketiga teman lain harus menyewa sepeda motor. Sewa motor Rp. 100.000 per orang. (Saya saranin untuk sewa motor aja, karena jauhhh bangets)

 

IMG_6433
Di lokasi air terjun berikutnya, ternyata ramai bangettttt terus nggak begitu bening … jadi kamu cuma nontonin anak-anak yang lagi menikmati masa kecil main ayunan terus nyebur.
Advertisements

5 thoughts on “Sehari Semalam, Pulau Moyo – Sumbawa

  1. Cuma mau edit pam, Moyo dari awal udah masuk itinerary kok, makanya kita agak “ngotot” untuk turun malam2 dari rinjani soalnya kalo ga turun, takut ga keburu ke Moyonya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s