Indonesia · JAVA - Indonesia

Stone Garden, Goa Pawon – Jejak Cerita di Situs Purbakala

SONY DSC
Setelah trekking selama kurang lebih 30 menit akhirnya kami sampai di puncak, Stone Garden 🙂 

Ada perasaan takjub, disaat saya bisa menjejakan kaki di sebuah situs purbakala. Kalau dulu hanya bisa membaca cerita manusia pra sejarah dari buku di mata pelajaran saat masih sekolah. Sekarang saya betul-betul pergi ke situs itu langsung dan merasakan bagaimana atmosfer kehidupannya. Ahhh keren lahh…

Inilah yang saya alami saat melakukan perjalanan ke Padalarang, Bandung Barat dengan tujuan Stone Garden dan Goa Pawon, awal Maret silam.

Melihat pemandangan, bukit-bukit dengan batu, pepohonan, dan perjalanan ke goa, seketika…. itu juga mengingatkan saya dengan kisahnya Bilbo Baggins di film The Hobbit, sekuel pertamanya “Unexpected Journey”. Dia terlibat perjalanan tak terduga bersama para ksatria dan kurcaci mencari harta di gunung yang dijaga Smaug (sang naga). Sebuah perjalanan yang tak terencana bagi Baggins karena si hobit ini tak pernah meninggalkan rumah sebelumnya.

SONY DSC
Menyelinap pemandangan lain setelah keluar dari Goa Pawon.

Sebuah hiperbola, daya imajinasi yang ketinggian. Jelas saya ini bukan si Baggins yang nggak pernah ninggalin rumah. Hehe, tapi kepergian kali itu rasanya memang sebuah perjalanan tak terduga. Tadinya saya tertarik buat ikutan nge-trip ke perkampungan Suku Badui bareng dua teman, Harry dan Debi. Pas konfirmsi tiga hari sebelum keberangkatan, ternyata nggak jadi pergi. Yah batal,.. katanya masih kurang info ke tempat tujuan.

Nggak kehilangan akal, weekend getaway pun berubah haluan. “Lagi terkenal tuh yang namanya Stone Garden? tulis Debi di obrolan WhatsApp

“Apa tu Deb? bar ya?,” balas saya… (Saya pikir bar karena berhubung namanya ini mirip-mirip tempat resto sekaligus bar yang banyak ada di Jakarta) Setelah tanya mbah Google, Stone Garden ternyata adalah sebuah tempat dengan kumpulan batu-batu di Bandung Barat.

Sabtu dini hari mendekati pukul 3.30 pagi kami berangkat, dan kali ini kita nggak terlalu susah-susah ngangkut tas backpack berisi peralatan kemping segede gambreng selama perjalanan. Dari Jakarta kita bawa kendaraan sendiri dan sekalian aja mampir ke berbagai tempat di Bandung.

SONY DSC
Tim yang ikut perjalanan ke Bandung Barat kali ini. Saat memasuki Goa tentu saja gelap, disana ada jalan menurun setelah keluar goa dengan pemandangan bebatuan sedimentasi, pohon dan bukit-bukit di kejauhan. 

Melewati pintu keluar Tol Pasteur, dimulailah perjalanan kita…. tujuan awal ke Bandung bagian atas, Lembang. Sepanjang perjalanan kemudian semua berceloteh dan serasa punya banyak tenaga juga waktu semua tempat mau dikunjungin… semua makanan mau dicobain. Boscha lah, ke Tebing Kraton lah, namanya juga traveler… kepinginnya sekali dayung dua, tiga tempat terlampaui. Emang nih BM (banyak maunya) banget kita.

Singkat cerita, menjelang sore sampailah kami di Goa Pawon. Masuk Pintu Tol Padalarang, … ngelewatin bundaran, terus kalo disuruh buat direction-nya sama sekali nggak inget. Palang gapura juga nggak jelas, nggak ada tulisannya, jadi harus tanya-tanya warga, tapi kalau naik bus pasti keneknya akan tahu.

Dari gapura yang terletak di pinggiran jalan besar kita masih harus masuk ke site Goa Pawon cukup jauh. Sekitar 1,5 KM (lalu ngebayangin bagaimana yang kalau kesininya jalan kaki bawa tas backpack)…. Tanda bahwa lokasi sudah dekat itu ya karena ada spanduk dan pos penjagaan. Lalu kita masuk dengan membayar tiket per orang sekitar Rp. 5 ribu dan biaya parkir mobil Rp. 3 ribu atau motor Rp. 2 ribu.

Di luar goa, ada tulisan Gowa Pawon/Gua Pawon,.. ini membingungkan ya? Kata penduduk sekitar Gowa itu bahasa Sunda-nya Goa. Dinamakan Goa Pawon karena di dalamnya ditemukan perkakas alat-alat dapur.

Namanya goa, pasti gelap, minim cahaya, tapi perlahan mata akan terbiasa dengan kondisi ini dan bisa melihat tanpa penerangan senter. Di atap goa ada kehidupan lain, bunyi ringkihan kalong yang terbang kesana kemari, disekitaran langit goa itu aja, tempat sarang kekelawar, dan… indra penciuman kita akan langsung dapat merasakan bau kotoran kalong antara pesing dan bau menyengat yang kuat. Be careful ya kalau jalan harus lihat-lihat, jangan sampai nanti ternyata jurang. Sebabnya di Goa ini ada penjaganya juga, seperti relawan dengan seragam yang akan memantau pengunjung.

Seperti halnya rumah, goa yang jadi tempat tinggal manusia pra sejarah juga punya pekarangan. Nah keluar dari goa ini ada pepohonan menjulang tinggi, dan pemandangan luar tebing goa yang sesuai perubahan waktu membentuk sendiri wujudnya. Fosil manusia purba ditempatkan di satu sudut dengan teralis, tapi ini hanya replika.

“Yang ada disana hanya replika, fosil aslinya sedang diteliti DNA-nya,” kata Yetti, relawan yang juga seorang guru SMP.

Fosil-nya sendiri baru ditemukan tahun 2000. Sementara Goa Pawon dan Stone Garden mulai dibuka pada 2013 silam, hingga saat ini pengunjung Goa Pawon sudah menjapai 13 ribu orang. “Membooming sendiri,” tukas Yetti lagi (tapi kita semua tahu, pastinya karena social media berperan banget disini)

Suasana pagi sebelum kami naik ke bukit, tracking selama 30 menit dan sampai di Stone Garden
Suasana pagi sebelum kami naik ke bukit, trekking selama 30 menit dan sampai di Stone Garden.

Dan di setiap perjalanan, pasti ada sebuah hikmah, saya sih selalu ngerasa bisa belajar dari orang-orang yang saya temui. Termasuk pertemuan dengan ibu Yetty. Dengan semangat si ibu cerita panjang kali lebar soal Goa Pawon yang sudah punya Grand Desain penggembangan kawasan wisata seluas 32 Hektar ini.

Fakta yang paling mengagetkan seperti pro dan kontra kawasan wisata, ada industri pertambangan yang merusak, pemandangan asap, … monyet yang diracun.. ada LSM gadungan yang meminta retribusi di atas sebelum masuk kawasan Stone Garden. Ceritanya jadi panjang panjang banget. Informatif dan bermanfaat… (Seperti lagi dapet materi kuliah geografi dan sejarah dadakan 3 SKS).

Ya,.. tapi kalo jadi nara sumber apa yang diungkapkan Ibu Yetty ini banyak yang harus di-cut, karena ceritanya banyak pengulangan. Zzzzz…zzzzz ya,.. dibalik itu saya sih salut, dengan orang-orang yang seperti ibu Yetty ini. Menangkap dari ceritanya, saya pribadi nggak bisa langsung percaya semua. Terutama tentang LSM, terus kok dia mau menyiapkan dana talangan rekonstruksi yang jumlahnya nggak sedikit itu. Tetap butuh yang namanya second opinion atau buktiin sendiri. Tapi bener deh, besok paginya setelah ketemu orang LSM, yang meminta retribusi sebelum masuk kawasan Stone Garden, saya juga jadi yakin kalau mereka ilegal. Tidak bisa memberikan kami sebagai pengunjung tanda karcis. Ini bukan tentang soal uang Rp. 5 ribu lhooo,…tapi tentang pemanfaatan situasi.

Berhubung sudah kesorean, kami istirahat dan karena ibu Yetty menyarankan untuk bermalam di ruang serba guna desa, rencana buat kemping di bukit Stone Garden batal. Padahal kebayang betapa keren-nya kemping di atas bukit, bermandikan bintang dan cahaya bulan. Cuaca lumayan lembab, takut ada pondasi tanah yang jeblok dan demi keamanan juga kan? Sayang juga udah bawa-bawa tenda, akhirnya dipasang juga sih di halaman ruang serba guna desa yang masih ada rumput-rumputnya.

SONY DSC
Cakrawala, dialah satu keindahan dunia. 

Kemping ala kadarnya, malamnya kami main masak-masakan :D. Anggap aja ini lagi di gunung, seperti waktu di Papandayan… dan entah kenapa indomie yang dimasak waktu lagi kemping itu rasanya ngalahin makanan apapun di dunia :). Terus saya agak amazing ngeliat Harry masak, soalnya telornya dicuci dulu dengan air mineral. Pas direbus, kulitnya nggak dipecahin, tapi tetap utuh. Padahal akan lebih boros gas dan lebih lama mateng, juga nggak ketahuan matangnya kan?? Hehehe, cuma itu telor setengah matengnya kok rasanya enak ya… terus nyobain buat sendiri di rumah beda rasanya masa :p

By the way,.. besoknya kami bangun ketika langit belum sepenuhnya terang karena penampakan fajar. Masih ada kabut, hawa dingin, dan udara segar yang menyelusup masuk ke rongga paru-paru, morning glory,…pagi yang mewah bagi saya.

Imajinasi, daya khayal pun melanglang jauh ke ribuan tahun lalu saat manusia pra sejarah masih hidup. Ketika sudah hampir sampai di atas bukit, hamparan batu-batu, pemandangan langit yang tak terhalangi gedung-gedung tinggi kalau di Jakarta dan hijaunya rumput, atmosfer ini seperti lagi di film The Lord of The Rings kan atau The Hobbit kan??

SONY DSC
Advertisements

3 thoughts on “Stone Garden, Goa Pawon – Jejak Cerita di Situs Purbakala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s