Singapura - Asia Tenggara · story · The Journey · Traveling

Extand! Beauty Trip, Singapore….

image (12)
Keramaian China Town, letaknya percis setelah keluar dari Stasiun MRT China Town

Setiap perjalanan pasti punya cerita baru, meskipun kita sudah pernah ke tempat yang sama sebelumnya. Itu saya rasakan ketika pergi solo traveling (lagi) ke Singapura.

Lebih tepatnya ini disebut extend! Memperpanjang masa kunjungan. Yup, saya kembali menyambangi Singapura untuk tugas negara alias kerja. Tapi kali ini beda, bukan liputan fashion week yang mirip kerja rodi dari jam 9 pagi ke jam 9 malam demi gala dinner dan catwalk desainer waktu event Asia Fashion Exchange 2013 lalu. Ini beauty trip bareng The Body Shop yang agendanya super nyenengin… hehe, Spa dan relaksasi, terus ikut beauty talk bareng ahli kecantikan kulit Dr. Terry Loong dan tentu aja sekalian dinner bareng dan kulineran seputar Orchard.

Oke jangan fokus cerita tentang beauty trip liputan di Singapura. Kali ini saya mau menuliskan tentang perjalanan ngalor ngidul naik MRT, belanja oleh-oleh, jalan-jalan di pasar tradisionil, sampai kulineran.

Sedari awal nggak banyak persiapan jalan-jajan random ke negeri ini, bahkan riset buat hostel juga seadanya, soalnya kan disini terbilang mudah kalau kemana-mana. Siapin dana lebih aja, karena apa-apa cukup mahal di Singapura. Apalagi kalau buat penginapan, sekelas hostel aja dengan tempat tidur dorm sekamar 8 orang saya perlu bayar $25 atau setara Rp.300 ribu. Tapi ya itu, sebanding dengan letaknya yang strategis dekat stasiun MRT dan pusat jajan.

image (9)
Ruang tengah Pillows and Toast, Hostel yang saya pilih buat sehari nginep di seputaran China Town. Sesuai namanya, ini hostel bantalnya empuk nyaman, pagi-paginya juga dikasih sarapan toast (bikin sendiri).

Saya pilih Hostel yang di dekat China Town, berhubung ini tempat dekat dengan kuil, masjid, dan tempat oleh-oleh, juga kulineran. Temen-temen sih nyaranin buat ke daerah Little India dan tempat lain, berhubung ini random saya buka peta dan tunjuk asal aja.

Dari seputaran Orchard, tempat awal saya menginap di Grand Park Orchard Hotel hari ke tiga saya geret-geret koper ke stasiun MRT terdekat di dalam mall Somerset. Lagi-lagi cuacanya gerimis, sambil memegang payung.. hup hup dan merasakan atmosfer kesibukan Orchard walau solo traveling wajah saya nggak jauh-jauh dari sumringah. Itung-itung ini cuti colongan loh…

Sabtu pagi itu, dengan langkah gontai saya mengikuti tanda panah jalur MRT yang memang mudah buat traveler manapun. Masukan koin uang sen Dollar Singapura, lalu pilih stasiun yang dituju, keluar deh tiket MRT saya yang cuma buat sekali perjalanan. Yup, tujuannya China Town. Sibuk banget orang-orang, mungkin karena weekend, di dalam juga penuh sama mereka yang abis ikut lari maraton, jadi inget kan besok paginya agenda saya buat lari di seputaran hostel.

foto
suasana di bawah stasiun MRT, nunggu gerbongnya datang. Kanan atau kiri? ikuti petunjuk yang tertulis, jadi nggak akan kesasar.

Sekitar jam 13.00 saya sampai hostel Pillows and Toast yang deket banget sama stasiun MTR China Town, bahkan tinggal nyebrang 5 menit sampai. Ternyata jam 14.00 baru waktu check in saya, tapi betapa ramah dan baiknya, saya tetep boleh diijinin lebih cepat masuk ke kamar.  Oke,… waktu ini saya gunakan buat ngerapihin isi tas, update di socmed dan males-malesan di kamar sambil kenalan sama traveler lain. Hehehe, memang nyantai dan nggak ngoyo banget kok perjalanan saya kali ini, nggak ada target harus buru-buru kesana sini, mau take a breath aja dari rutinitas dan dapet suasana beda.

Sejam kemudian, ada penghuni kamar lain yang masuk. Megu namanya, asal dari Jepang. Saya nggak langsung kenalan tapi nyapa aja sih, baru setelah berapa lama ngajak ngobrol dia. Wow… ternyata Megu mau flight ke Indonesia besoknya, tepatnya ke Jogja. Dia bilang mau ke Jogja dan mampir ke Candi Borobudur. Senangnya sebagai orang Indonesia negaranya mau dikunjungin. Ngobrol lebih lanjut, ternyata si Megu ini keluar dari pekerjaannya buat bakpackeran keliling dunia. Widiiiih sadis…. “It’s crazy…, but cool,” kata saya. Walaupun saya tahu banyak juga orang melakukan hal yang sama. Hmmm, heheh saya cinta traveling, tapi juga cinta sama pekerjaan saya, keluarga, jadi gimana ya buat ninggalin itu. Seru jalan-jalan, tapi saya butuh keseimbangan dan kestabilan juga.

image (11)
Ini jalur lari saya yang acak-acakan banget di seputaran China Town

Di dorm juga ada beberapa traveler lain, tapi saya nggak banyak bicara soalnya yang tidur di kasur sebelah saya dua cewe muda dari Thailand. Karena berdua temen akrab mereka ngobrol beduaan aja, semacam galau gimana malem-malem diatas jam 21.00 mereka masih berkelian lagi loh, terus pulang jam 00.00 dini hari.

Penghuni lain, yang baru datang pas kemas-kemas check out, dua wanita dari Cina. Perkiraan saya begitu, soalnya mereka bisa berbahasa lancar sama resepsionis hostel, terus bilang “Sie sie,” (yang artinya terima kasih). Tapi nggak bisa bahasa inggris.. padahal kayanya mau ngobrol banget. “Can you speak in english,??” kata saya, eh dia nggak ngerti…ZzzzzzZzzzz sampai akhir zaman juga. Ketawa-tawa aja akhirnya.

Sarapan di hostel ini bikin sendiri, mau roti, sereal, susu dan itu cuci piring sendiri, jadi kalo mau nambah silahkan aja, hehe. Bahkan saya ketemu dengan kakak-kakak dari Surabaya setumpah darah Indonesia yang segerombolan sarapan bareng lalu berisik ngambilin roti selai dan nempatin di tupperware mereka. Aiiihhhhh bangkrut deh pemilik hostelnya..

image (13)
Sabtu sore jalan-jalan sendirian menikmati ice cream durian di komplek China Town, sambil ngeliatin orang-orang yang lagi senam.

Jalan-jalan di China Town sore-sore, yup… ke kuil India yang letaknya deket pasar, makan di Chinatown Food Street yang rasa nasi ayam hainan-nya nggak banget.. ah mana harganya $Sing 4,5. Terus belanja dan ketemu celana jaipur yang suka dipake bule-bule dan keren itu (kalo ini nggak nyesel walau harganya $Sing 10), dan melipir ke Masjid, maksudnya mau numpang solat tapi lupa kalo kita ke Masjid di Singapura atau Malaysia suka ditanyain kalo nggak pakai kerudungan (ya daripada nati diusir kan). Malemnya saya nyari yang hangat-hangat, semangkuk bubur kacang hijau dekat hostel $Sing 2 (itu nyesel beli jutek penjualnya).

Hmmm.. paginya  habis subuh, yang di Singapura subuh itu lebih telat, hampir jam 6, saya jogging. Dan jalanan minggu pagi itu sepi, aktivitas di pasar aja belum dimulai. Sarapan, beres-beres koper, bergegas ke stasiun MRT buat menjelajahi tempat lain ke Little India. Niatnya hanya untuk makan siang sebelum cuuusss ke bandara. Apalagi yang dimakan kalau bukan Roti Naan sama Ayam Tandoori. Kali ini rasanya lebih enak kemana-mana daripada yang saya coba di Malaysia. Ajiiibbb…

Waktu yang singkat banget buat  merasakan atmosfer weekend di Singapura. Selebihnya saya gunakan detik-detik terakhir berkeliling bandara.

image (10)
The end of journey, back to Jakarta 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s