Indonesia · JAVA - Indonesia

Pendakian Pertama, Gunung Papandayan

IMG_1515.JPG
Di Hutan Mati. Amazing banget ya di Indonesia ada tempat seperti ini 🙂

Naik gunung itu selalu diasosiasikan dengan kegiatan kemping, pasang tenda, sama menemui padang Edelweiss yang cantik. Ya memang… Dan sebagai anak pantai, naik gunung kelihatannya susah banget, perlu usaha dan lebih repot peralatannya.

Tas backpack saya yang buat dua hari aja, penuhnya setara kalau mau pergi seminggu. Dan ini masih cukup terbilang ringan lho dibanding sama teman-teman sesama pejalan lainnya. Apalagi kalo ngeliat tinggi tas ketua geng kita Papa Marcel yang bawa peralatan makan sampai tenda.

Sebab ini kepergian pertama kalinya, saya beli sleeping bag baru, headlamp, bahkan juga matras dan sendal gunung. Bela-belain banget deh…..Lagi-lagi saya pergi Jumat malam hingga Minggu, jadi sama sekali nggak cuti, yang penting kan tugas-tugas kantor udah beres semua. Perjalanan diawali di terminal bus Primajasa Cililitan, tujuannya tentu saja Garut. Sekitar 5 jam perjalanan kami sampai di terminal Bayombong lalu lanjut naik mobil omprengan bak terbuka yang sengaja dicarter mengantar hingga ke Camp David.

Disini nih, ada insiden yang kurang menyenangkan. Kita kena palak supir angkot yang nggak terima dilangkahi sama carteran mobil bak. Jadi memang di perhentian terakhir Bayombong sudah ada sekian banyak angkot yang ngetem, sebagai kendaraan menuju camp David. Akhirnya biar berdamai kita patungan aja kasih Rp.100 ribu. pffftttt

image (1)
Di Base Camp David sebelum mendaki Papandayan, kita pergi sekitar 12 orang dengan satu porter.

Papandayan cukup mudah ditaklukan pemula seperti saya, yup… karena ketinggiannya hanya 2622 mdpl. Meski sejujurnya saya pun terengah-engah juga menuju puncak untuk melihat padang Edelweiss. Padahal sebelum berangkat, tim dua kali buat jadwal lari bareng sebagai “pemanasannya” dan padahal saya juga rutin jogging seminggu tiga kali.

Suguhan pemandangan indah tak terelakan. Semua rasa lelah rasanya sudah nggak ada apa-apanya, sebanding dengan udara sejuk pegunungan, hamparan langit, pepohonan, hutan, dan semua itu ditempuh dengan jalan berkelok-kelok yang terjal. Berkali-kali terasa kaki saya anfal, terutama di bagian kuku. Memang baiknya pakai sepatu itu akan lebih nyaman dan aman.

Saya cuma heran dengan motor yang bisa ikut-ikutan dibawa mendaki sampai perbatasan di Pondok Saladah, bahkan sampai ke pos berikutnya. Apalagi disini juga ada penjual bakso cilok, perjuangan banget si abang-abang buat sampenya, dan mereka jualnya tetep murah Rp 5 ribu saja. Padahal kita serombongan terima kasih banget bisa ada cemilan selama perjalanan.

DSCN2326 (1)
Awal rute pendakian ke Papandayan, berasap belerang, banyak batu-batu kapur makanya harus pakai masker ya…

Kurang lebih sekitar 4-5 jam berjalan kaki dan melewati Pondok Saladah sampai juga di pos terakhir tempat kita buat tenda. Dan besok paginya barulah perjalanan sesungguhnya, yang buat perjalanan ke Papandayan berkesan. Pagi sekitar pukul 08.00 kita pergi menuju Dead Forest atau Hutan Mati dimana ada hamparan pohon-pohon kering menghitam yang disebabkan oleh erupsi Gunung Papandayan tahun 2002. Cakeppp banget view-nya,… *masih terkesimah*

Perndakian dilanjutkan kembali menuju padang Edelweiss yang berjarak sekitar 45 hingga 60 menit perjalanan. Disini lagi-lagi susananya “amazing” cukup terjal jalan untuk didaki dengan gradien atau kemiringan tajam, 15 derajad mungkin? jangan sering-sering lihat ke belakang soalnya bakal takut lihat pemandangan ke bawah. Wow kita kecil banget, lalu takjub dan keinget dimana tadi titik awal kita mendaki. Jauh banget, nggak nyangka saya bisa melewatinya. Ini seperti dalam sebuah filosofi hidup ya?? (ah terlalu mendramatisir)

image (2)
Padang Edelweiss yang cakep itu

oke biar tergambar perjalanan saya selama di papandayan, saya akan berbagi itinerary-nya, saya bisa ke Papandayan berkat ikut dalam satu rombongan trip @jejak_cerita ini dia……

Itinerary & Transportation
Time    Activity
DAY 1, 22.00    Kumpul di Terminal Kp. Rambutan/Cililitan
Fri, 14 nov 14  23.00-04.30     Perjalanan Jakarta-Garut (Terminal Guntur)

DAY 2,
Sat, 15 nov 14  04.30-05.30     Sholat subuh + Bersih2 di Masjid
05.30-06.30     Perjalanan Term. Guntur – Simpang Cisurupan
06.30-07.30     Perjalanan Simpang Cisurupan – Camp David
07.30-08.30     Pendaftaran dan sarapan di Camp David (masing-masing)
08.30-13.30     Camp David – Tegal Arun (Camp Area)
13.30-14.30     ISOMA (lunch & dirikan tenda)
14.30-16.30     Foto-foto, acara bebas
16.30-17.30     Menuju puncak, hunting sunset (optional)
18.00-18.30     Kembali ke Camp
18.30-19.30     Sholat + Makan Malam, Api Unggun
19.30   Acara Bebas

Ini baru sampai kawahnya, masih sekitar 2 jam lebih menuju Pondok Saladah tempat kemah

DAY 3, 05.00-06.30      Menuju puncak, hunting sunrise
Sun, 16 Nov14   06.30-09.00     Sarapan, packing
09.00-13.00     Perjalanan menuju Camp David
13.00-14.30     Makan siang (masing-masing)+ Dzuhur di Camp David
14.30-15.30     Perjalanan Camp David – Simpang Cisurupan
15.30-16.30     Simpang Cisurupan – Terminal Guntur
16.30-22.00     Perjalanan menuju Jakarta (Cililitan/Kp.Rambutan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s