LIFE · The Journey

Hai Jiwa-Jiwa Yang Tenang

“Hai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhan mu, dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya,” kutipan dari QS 89 (27-29)


Teruntuk diriku, bukan bermaksud menggurui orang-orang. Belakangan dari satu perjalanan ke perjalanan lainnya saya sering bertanya, dan terus bertanya. Sebenarnya apa yang saya cari?

Suatu kali karena keresahan, saya justru banyak membaca. Pergi ke toko buku, dan pulang dengan banyak bahan bacaan. Sesaat ditemukan ketenangan dari membaca. Inikah yang disebut berusaha mengenal diri sendiri? Saya masih bertanya-tanya. Mungkin seperti yang mirip diutarakan Coelho di bukunya Aleph, di bagian awal dia berujar betapa dia tak menemukan lagi Tuhan. Satu titik dalam hidupnya yang klimaks, dia sukses sebagai pengarang buku, punya kehidupan baik dengan penggemar-penggemarnya. Tapi dia merasakan kehilangan Tuhan.

“Aku membayangkan bahwa begitu aku mencapai umur 59 tahun, aku akan berada dekat dengan surga serta kedamaian absolut yang kulihat pada senyum biksu-biksu Buddha. Kenyataannya, aku malah wpid-blogger-image-767215892.jpgmakin jauh dari hal itu dibanding sebelumnya. Akutidak merasa damai – kadang-kadang aku melalui periode-periode konflik batin yang bertahan selama berbulan-bulan,” kutipan Coelho di novel Aleph halaman 15.

Bagi saya, memang terkadang ada banyak konflik batin yang kita rasakan karena sesuatu sangat mengganjal dan tak sesuai yang kita kehendaki. Jawabannya untuk saya pribadi, saya harus fokus pada solusi. Saya akan fokus mengerjakan hal-hal yang saya sukai. Saya akan meminta Tuhan membela saya, meminta keridhaan-Nya agar saya bisa melakukan apa-apa yang saya sukai.

Hampir setiap hari saya bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Dan seringkali mereka menjadi inspirasi saya. Sebutlah belum lama ini, saya bertemu Mbak Windri, seorang desainer busana muslim. Saya datang ke rumahnya untuk wawancara profil. Setelah mengobrol lama tentang kegiatannya, saya mengambil kesimpulan tentang pribadinya. Saya tertarik dengan keseriusannya menciptakan koleksi. Filosofi ditiap hasil guratan motif batik-nya, simbol yang dimiliki semua agama. Bagaimana dia menamai koleksinya, “Layers of Fidelity” yang makna sebenarnya kesetiaan pada Tuhan (dengan berhijab, dengan berpakaian yang baik).

“Ini sebenarnya maknanya kesetiaan pada Tuhan,tapi judulnya dibuat seolah itu kata-kata fashion, ada kata layers karena kita memang ciri khasnya selalu ada layers dibaju,” sebut mbak Windri.

Lalu dia menyebut juga, ya sebenarnya apa sih yang kita cari?. “Sekarang kembalinya pada Tuhan,” katanya lagi.

Iya ya, saya malu sebenarnya karena saya sendiri belum berjilbab, lantaran saya belum Pede. Saya masih punya banyak PR untuk ujian ke-Tuhan-an saya. Saya masih harus melawan tarikan lingkungan yang tak selalu bagus, saya masih jauh dan sangat jauh dari pribadi orang yang selalu sembahyang.

Kedamaian, akhirnya saya pikir bukan karena kita ingin bebas melakukan apa yang kita suka dan ingin, tapi sebuah penyerahan diri yang ikhlas hanya lantaran ingin keridhoan-Nya. Lagi pula siapa lagi yang paling tahu apa-apa yang terbaik kalau bukan Dia?

Menambahi dengan kata-Kata Paulo Coelho, meski dia bukan muslim. Saya masih saja percaya untuk memperhatikan tanda-tanda, tanda-tanda apa? apa saja yang menuntun hati saya.

– Untuk diriku sendiri – waktu itu Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s