The Journey · Traveling · Vietnam - Asia Tenggara

16 Jam Solo Traveling itu rasanya,….

Tahun lalu saya pernah berencana untuk solo traveling karena ingin menguji sejauhmana kemampuan survive di sebuah tempat asing. Namun akhirnya niat untuk  mengembara sendirian di negeri orang harus saya batasi durasinya. Banyak pertimbangan, antara waktu, dana, termasuk keamanan. Oke tapi betul-betul kepingin sekali aja, seumur hidup saya punya pengalaman ini. Jadi saya buat rencana perjalanan ke Indochina kemarin dengan desain solo traveling yang dikombinasikan group backpacking. Seperti apa?

Minggu siang, sedang santai-santainya weekend. Stok berita saya seminggu kedepan selama cuti hampir beres, niatnya nanti di Changi sembari transit dan nunggu penerbangan pagi baru saya selesaiin. Bahan-bahannya sudah lengkap, foto-foto aman tinggal dijahit saja beritanya sih. Oke memang hidup saya nggak pernah jauh-jauh dari deadline menulis, meski itu di detik-detik liburan 😀

Untuk masalah keberangkatan ke bandara dan harus ribet dengan cek in tepat waktu, boarding pesawat,  mepet dengan jam orang sholat selalu bikin saya bener-bener panik. Karena suatu kali dulu pernah ketinggalan pesawat. Oh noooo, tolong jangan lagi. Jadi abaikan dulu hal-hal lain untuk urusan yang super ribet ini. Kalau udah boarding, baru lega rasanya hati ini. (alhamdulilah gak ketinggalan pesawat)

Gambar
Sendirian naik tuk-tuk tuh ya rasanya begini, cuma bisa fotoin drivernya.

Hari 1 :

Pk. 15.30 sampai Bandara Soeta, langsung cek in dan boardingnya 45 menit sebelum take off, on time banget maskapai Tiger Air Mandala. Saya perhatiin cuma saya yang traveler disini, mungkin karena tujuan Singapura jarang ada yang compang-camping perginya 😀

Pk. 18.00 Take off, isi pesawat ribut karena ada 3 cewe Rusia yang kalo ngobrol suaranya kenceng banget. Mereka pakai bahasa Rusia jadi dikira satu pesawat nggak ada yang ngerti. Annoying banget jadi susah tidur. beberapa bangku banyak kosong, termasuk bangku sebelah saya. Aduh nggak ada teman ngobrol itu rasanya, melelahkan ternyata.

Pk. 21.00 Sampai juga di Bandara Changi, lekas cari minum dan toilet. Lanjut aktifin wifi super kenceng Changi buat selancaran di internet. Rileks dulu, cari praying room dan tempat pewe buat nulis berita. Lanjut, cari makan?, saya bawa bekal biskuit dan susu cair jadi makan malam dengan ini dulu biar praktis. oke malam itu saya susah tidur, Changi dingin banget.

Hari 2 :

Pk.03.00 pagi sisah dua artikel saya beres. Sembari nungguin subuh, mainan internet di Changi. Apa aja ada sih disini, akhirnya nonton tayangan bola dengan layar super gede di salah satu sudut entertaintmen.

Pk. 05.30 praying room penuh sama malaysian dan Indonesian

Pk. 06.00 Niatnya mau ikut free tour Singapore tapi badan rasanya lelah akibat nggak tidur. Lagi pula tahun lalu udah pernah keliling Singapura dan Sentosa. Berasa laper saya cari makan di kantin lantai 2.

Pk. 07.00 Sarapan Laksa di warung yang penjualnya Indian gitu. Seriusan ini laksa lebih enak daripada yang pernah saya beli di Mall seputar Orchard Road. harganya sekitar $ Sing 5. Mahal ya? rata-rata kisaran ini harganya. Salah banget ya pagi-pagi makan Laksa, mirip makan lontong sayur kalau di Indonesia. tapi. so so lah.

Pk. 08.00 Kembali ke layar ukuran besar yang menyiarkan pertandingan bola. Soalnya bangkunya nyaman buat tidur. Akhirnya saya ketiduran sampai jam 10 pagi. Di bangku ada speaker di sebelah kuping kanan dan kiri kita yang bila kita menyender suara sang narator baru akan jelas terdengar. Rasanya seperti lagi didongengin. Berhasil bikin saya tidur 🙂

Gambar
Cambodian ternyata ramah kok, ini driver kita selama di Siem Riep, Safy, ramah banget. Bahkan mau nganter juga ke kantor pos.

Pk. 11.00 Baru ke imigrasi dan pergi ke terminal 2 untuk transfer pesawat. Keliling Changi yang luas itu, dari terminal 1,2,3. Awas jangan nyasar naik MRT, Sky Train. nggak prepare buat beli itu tiket MRT. Jadi inget sama Anant, teman yang nganter saya sama Tiara waktu di Singapura. Sayang dia udah pindah ke Amerika buat sekolah. Disela-sela ini ngobrol lah sama ibu-ibu Indian yang katanya mau terbang ke Malaysia. Lucu ini ibu-ibu kenapa malah curhat soal rumah tangga nya ya -__-

Pk. 12. 30 Boarding, dan facial foam satu-satunya ditahan sama petugas bandara. Katanya ini ukuran botolnya lebih dari 100 ml, padahal udah tinggal 10 ml isinya. tetep loh ga boleh dibawa. i hate u makcik -__-

Pk. 15.00 touch down Cambodia, yeaaayy!!!! habis dari imigrasi, langsung panik.. lah kok jam 4 sore ya??? refleks tubuh buru-buru ke toilet buat pipis. Jaga-jaga nanti toiletnya nggak bersih selama melewati Phenom Penh. Panik takut telat naik bus ke Siem Riep (tempat keberadaan Angkor Wat) nggak pake mikir langsung sewa tuk tuk dan nggak sempet cari partner buat patungan.

Ada pasangan bule yang satu pesawat tadi ngeliatin. Soalnya mungkin saya ngomong bahasa Inggris ke petugas tuk-tuk, dikira tadi orang lokal kali. Wajah kita kan Indo sir. Indo china. Terpaksa harus merelakan $ 7 USD buat tuk-tuk ke stand bus. Soalnya info di internet terakhir jam 16.30 bus buat ke Siem Riep selain Night Bus yang berangkatnya baru jam 7 malam nanti. Sementara buat ikut tour sunrise, saya harus tiba sebelum jam 12 malam supaya bisa tidur dulu.

Aduh si bapak tuk-tuk nyupirnya lama, sambil merhatiin tata kota Phenom Penh, saya mikir ini seperti masih di Indonesia. Tapi di daerah mana gitu ya? Surabaya? soalnya mirip. Nggak sabar saya bilang lagi ke bapak tuk tuk. Sorry sir, can u drive more faster? 

Pk. 16.30-an Sampai di stand penjual tiket bus ke Siem Riep. Lah, lama dan jauh. Saya nggak menemukan bus yang saya ingin. Harga yang murah seperti informasi di internet sekitaran $ 9 USD. Ternyata hanya ada mini van seharga $ 15 USD tapi akan sampai lebih cepat ke Siem Riep.

Saat menunggu, saya baru sadar. Penunjuk waktu di handphone baru tersinkronisasi. Kepanikan tadi adalah ulah waktu Singapura yang lebih cepat 1 jam dari waktu Cambodia. -__-

Ini mungkin rasanya sendirian di negeri orang. Parno aja, sama kejahatan.Padahal sih, orang Kamboja masih terbilang ramah daripada orang Vietnam. Soalnya kan kamboja dulu punya sejarah membantai bangsa sendiri. hiiiiiiiii, apalagi satu mini van cuma saya yang orang asing, semuanya cambodian. Petugas agen bus ngasih saya nomor duduk 14, soalnya saya penumpang terakhir.

Sialnya, saya harus duduk dibelakang, ditengah pula. Sebelah kanannya pria dengan bobot overweight jadi kesempitan, nggak bisa tidur lagi sepanjang perjalanan. Lima jam lamanya di mini van, lapar, belum makan dari sore tadi, bongkar isi tas yang berisi biskuit sisah kemarin, Saya tawarin juga aja ke mereka, eh karena itu jadi nanya-nanya.

Gambar
Langit Kota Phenom Penh saat itu, cerah 🙂

“Dari mana? …. “Indonesia,”

“Eh kok ke Kamboja pas perayaan Happy New Year Cambodia sih?

“Eh, Happy New Year, maksudnya independent day (Hari Kemerdekaan)? pantesan ya sepanjang jalan tadi ada beberapa tulisan ucapan Happy New Year. Tapi kan ini bukan 1 Januari. Lho????

“Iya independent day, ke berapa ya tahun ini? kemudian cowo Cambodia paruh baya itu nanya ke temen sebelahnya, ke berapa ya?

Huffffft, baru enak setelah ada temen ngobrol. Ditengah jalan, jam 10 malam, bus berhenti di warung makan, supirnya makan dulu ternyata. Saya nanya kan, ini udah di Siem Riep ya?? hiiiii dasar ternyata transit doang. Lalu ada satu perempuan muda nawarin saya permen karet, terus kita jadi ngobrol.

“Dari mana? …. “Indonesia”

“Sengaja dateng ke Siem Riep ya mau ke Angkor Wat. Wahhh kamu pasti seneng banget ke sana,”

“Iya nih, mau liat sunrise. You are student? (saya nanya ini karena keliatannya dia masih muda banget)

“No, I’m working,” Lagi mau balik (istilahnya pulang kampung) ke Siem Riep, disini tempat tinggal gue. Nggak lama abis itu mini van berangkat lagi. huuuft lega, ternyata cambodian ramah-ramah loh, yang dibayangin soal Khamer itu mungkin DNA nya nggak menurun ke beberapa generasi 😀

Oya temen-temen group traveling kali ini udah sampai duluan ternyata di Guest House. Jadinya saya malah yang dijemput sama supir tuk-tuk. Lewat sms saya ngabarin salah satu teman dimana harus di jemput ketika sampai. Dan,… ternyata sampainya lebih cepat. Jalan berdebu antara Phenom Penh dan Siem Riep, goncangan, loncatan. Apa kabar itu mini van, pasti harus ekstra dirawat ke bengkel karena kondisi jalan yang sangat buruk.

Malam hari pula, saya memang berangkat sekitar pukul 17.00, jadi yang saya bisa lihat adalah pemandangan lahan gersang. Kadang ada rentetan pohon yang belum pernah saya lihat, entah apa namanya. Lalu selebihnya malam, cukup gelap untuk melihat sekitar. Satu mini van tertidur walau dengan banyak goncangan.

Akhirnya, tiba juga di Siem Riep, di stand bus. Tinggal tunggu Safy aja, driver tuk-tuk yang akan mengantar besok pagi ke sekeliling Siem Riep, utamanya Angkor Wat. Sampai di Guest House, alhamdulilah menginap di Guest House yang ada ruang tunggu, wifi super kenceng (cuma di lobi) dan dekat sama pohon-pohonan, ada ayunan juga, betul-betul asri.

Kesimpulannya, jadi solo traveling itu justru bikin saya boros. Naik tuk-tuk nggak bisa sharing cost, sewa kamar di Guest House juga. Tuk-tuk untuk keliling Siem Riep dan Angkor Wat seharian butuh sekitar $ 15-20 USD, kalau punya temen barengan pasti lebih murah. Kecuali mungkin kalau kamu punya waktu yang cukup lama buat traveling, tanpa agenda pasti. Cari partner dengan berkenalan dengan traveler lain tak akan terbentur mengejar bus dan agenda lain.

unnamed (4)
Pemandangan kota Phenom Penh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s