LIFE · Liputan · story

Dulu & Sekarang

wpid-2013-10-19-18-42-20_deco.jpgDulu ya waktu awal-awal jadi reporter suratkabar begini nih….

1. Tiap kali wawancara direkam lewat tape recorder (tape recorder mahal yang dibeli dengan sallary pertama) terus ketika akan nulis jadi berita di dengerin lagi rekamannya. By the way kerja dua kali dong, itulah terus kerjanya lama kan padahal deadline tiap hari. Blahhh!

Pernah suatu ketika, konfrensi pers pun direkam, bukan apa-apa tapi ketakutan salah. Padahal sih kalau baca-baca dulu rilis atau background pasti udah paham dan ngerti. Tinggal di kepala ada berderet pertanyaan.

Terus, terus sekarang, mungkin udah males atau kelewat praktis, efisien, hemat waktu? Jarang merekam, kecuali wawancara eksklusif, bahasa inggris. Konpres atau doorstop langsung aja dong diketik di tablet atau BB dikolom draf email atau memo. Bisa langsung jadi berita, tinggal dipulas ala bahasa feature, copy paste ke email. Beres!! (Gila kenapa engga dari dulu aja begini)

And FYI, ketika tape recorder mahal itu hilang setelah 2 tahun kepake, gw sengaja nggak beli lagi, karena kan di playstore android udah ada aplikasi recorder, tinggal download aja =)

2. Dulu bodyku tak begini, sekarang baju tak cukup lagi. . . Lebih berat 10 kilo, selama tiga tahun berkelana, liputan ini dan itu…..dan agak sulit kembali ke berat semula, karena engga stabil. Kenapa? Karena setiap kali deadline aku bawaannya jadi laper. Dan coba liat para wartawan itu, jarang yang kurus, karena dimanjain sih, apalagi kalau keluar kota. Waktu acara liputan tiga hari sampai seminggu keluar kota aja panitianya nyusun jadwal dari sarapan, makan siang, sampai makan malam, dan itu dengan dessert. Blahhh!

Terus pernah gw diomelin gara-gara nggak mau makan malem, sampai disamperin ke kamar, dibujuk-bujuk makan. “Harus makan mbak, nanti kena malaria kalau kurang makan,” *duhh apa sebab musabab deh itu* *tapi terus yang dibujuk nurut*

Suatu kali pernah hampir berhasil turun 3 kilo, berkat metode akupuntur, terus naik lagi dong -__-” . Terus sekarang naik turun dan tahun ini harus sehat, harus sehat, menghindari kopi dan teh karena takut efeknya ginjal nanti. Terus nggak makan junk food, mie instan, kalau lagi kepingin banget itu paling 1 bulan sekali.

Harus sehat ke tubuh semula 48 kilo, jadi sekarang sarapannya tiap hari minum jus tomat, dicampur madu dan lemon, terus baru makan jam 12 siang, sore boleh ngemil buah, malamnya minum jus tomat mixed tadi lagi. Kadang jus tomat diganti jus jambu merah, atau makan pepaya yang kemungkinan tidak pakai pestisida.

3. Dulu juga lebih sering dikejar-kejar deadline dan harus rela nggak libur saat tanggal merah. Masih inget banget waktu itu, natal dan tahun baru engga libur tanggal merah, terus harus buat berita pula. Pas itulah baru paham harus punya stok berita. Oke, jadi kalau mendekati tanggalan merah saya sementara jadi wartel (wartawan telpon) jleeebbb.

Sekarang, duuuuiilaaaa. Tetep kirim berita kalau memang jadwal terbit, tapi agak mending tidak perlu ke kantor, yihaaaa!!!! Cuma, kalau cuti tetep aja harus nyetok tulisan sebelum liburan. *Duh, gimana kalau cuti nikah, cuti haji, cuti umroh, atau cuti keliling Eropa* *mikir*

4. Wanita jalanan yang kesana-kesini liputan nyetir motor sendiri, kucel,jarang bedakan, pakai eyeliner pun berantakan, . Bahkan pernah disangka sakit karena kunyu sekali OMG, …

Now, kemana-mana naik kereta dan bus, atau angkot, walau pengeluaran bertambah, tapi kan liputan tidak seekstrim dulu. Kalau jauh banget liputannya juga lebih baik pakai driver kantor.

5. Ngetik dimana pun, kapan pun, ngeper di lantai (mirip-mirip nge gembel) tapi nikmatin banget masa-masa ini apalagi saat di liputan news, waktu nungguin rapat kerja pemerintah sama DPR, doorstop ngejar-ngejar menteri dan mendengaran pemaparan mereka. Hitung-hitung banyak ilmu yang didapat dari cuma mendengar. Banyak yang setuju pasti, kalau nggak semua anggota DPR itu intelek atau cerdas. Bahkan justrunya kita akan tertawa dengan pertanyaan bodoh mereka. Kadang wartawan lebih tahu background dan apa-apa yang mereka (DPR) tanya diulang-ulang. OMG.

Yang paling seneng, sama temen-temen di DPR, kalau lagi ikut kunjungan kerja ke daerah kita kompak, mau nanya apa nih nanti, isu apa, terus kita semua serius liputannya, ngikutin ketua lembaga seperti DPD, waktu itu Irman Gusman, orasi di Universitas Lampung, kunjungan ke pasar, bla bla.Tapi ya beda kalau sama teman-teman di kesra yang kalau ke luar sempet-sempet karaoke. Malah sampai ngajak bu menteri ikut karaoke 😛

wpid-IMG_20131019_144717.jpg

Sekarang, saat liputan di lifestyle lebih sering ngetik manis di depan komputer, kadang di tablet dan bb juga, tapi jarang. Rindu deh masa-masa itu, waktu bener-bener jadi wartawan.

6. Dulu suka kebanyakan liputan tapi kurang pilih-pilih mana yang penting banget diliput. Ya, karena masih baru, pingin semua diliput, pingin tahu ini itu, serasa punya banyak tenaga buat ngeliput. And now, ya kalo cuma launching store terbaru males juga jauh-jauh ke Jakarta Barat.

Advertisements

4 thoughts on “Dulu & Sekarang

  1. Hi hi Pamela… Aku suka baca postingan kamu. Coba deh jus nanas (Tanpa gula, air putih diganti air kelapa untuk jus) cepet nurunin berat badan. Plus rajin olah raga, setidaknya lari seminggu sekali pasti cepet kurus dan badan sehat. Cheers, Fani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s