BALI - Indonesia · LIFE · story · Traveling

Mengenal Bali Lewat Miguel Covarrubias

Image
Miguel Covarrubias (kiri) peneliti asal Meksiko bersama salah satu penduduk Bali

Tanpa rencana, siang itu bus Trans Sarbagita yang saya naiki ternyata menuju wilayah Nusa Dua.

Saya pikir tidak apalah, planning ke wilayah utara Bali harus batal, toh ke daerah Ubud sana pun sudah tidak cukup waktu.

Bali itu selalu ngangenin, saya pun meski berkali-kali ke pulau dewata ini nggak pernah merasa bosan. Tapi sesering apa mengunjungi Bali, apa iya kita sudah benar-benar mengenal kultur, kebiasaan, budaya, dan latar belakang masa lalunya?

Salah satunya lewat Miguel Covarrubias Bali bisa dikenal hingga ke benua lain, ketika buku karyanya berjudul Island of Bali terbit pada 1937. Karya-karyanya berupa lukisan, foto, dan gambar-gambar hasil guratannya dipamerkan di Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali.

Sementara mengunjungi museum itu, tampaknya terdengar membosankan. Tapi kadang, jadi satu cara mengenal yang unik. Apalagi saat saya memasuki ruang pamer bagian benda magis, sesembahan purbakala. Seketika ada perasaan mistis, seperti sedang tidak seorang diri disana. Berbeda atmosfernya saat di ruang pamer paling pertama yang memajang karya pelukis terkenal asal Indonesia.

Siapa sebenarnya Covarrubias itu? José Miguel Covarrubias Duclaud (22 November 1904 – 4 Februari 1957) sebenarnya seorang pelukis dan karikatunis asal  Meksiko. Tapi dia  juga etnolog dan sejarawan yang pada tahun 1930 silam datang ke Bali, melakukan penelitian tentang masyarakatnya.

Covarrubias menyusuri seluruh wilayah pulau Bali dan berkat penelitian yang dilakukannya dia berhasil mengenal penduduk dan kebiasaan mereka. Seperti agama dan keluarga sebagai elemen yang penting dalam kehidupan masyarakat Bali, sesuatu yang mirip dengan kebudayaan Meksiko. Ini yang menarik hingga Covarrubias cukup lama berdiam di Bali dan melakukan penelitian.

Melalui berbagai foto, sketsa, lukisan, dia menggambarkan esensi pulau, warna, tekstur, serta kehangatan pemandangan alam dan penduduknya. Dari gambar-gambar tentang kesederhanaan masyarakat Bali hasil sketsa Covarrubias terungkap pula bagaimana budaya pulau dewata asal mulanya tumbuh.

Seni tari Bali yang dimiliki sejak generasinya masih sangat muda jadi salah satu yang paling menarik perhatian Covarrubias. Dalam setiap acara di kalangan penduduk Bali pasti akan selalu ada tarian dan musik yang berbeda, dengan kostum mewah dan hiasan kepala yang sama sekali tidak sederhana.

Image
sudut ruang pamer lainnya kebanyakan berisi lukisan

Garis-garis spontan dari banyak gambar yang dibuat Covarrubias juga memperlihatkan gerakan penari dalam fase berbeda. Musik dan tari yang dimiliki masyarakat Bali katanya berasal dari para dewa. Salah satu kutipan yang diambil dari artikel yang dipajang di ruang pamer menyebutkan berbagai hasil penelitian Covarrubias tentang masyarakat Bali.

“Di Bali sebuah perayaan tidaklah lengkap tanpa adanya pertunjukan musik, tari, dan teater. Seni tari Bali benar-benar meupakan sebuah pertunjukan, ditarikan untuk menghibur penonton dan sebagai unjuk kebolehan. Bentuk-bentuk ekspresi bahasa tubuh juga berhubungan dengan ritual yang magis.” Ulasan Miguel Covarrubias, yang tertera di ruang pamer.

Keseluruhannya Museum Pasifika menampilkan 115 gambar, lukisan dan foto-foto yang menunjukkan nilai seni, dokumenter karya seniman Meksiko dan kekayaan Bali. Tiket masuknya Rp. 70.000 / $ 5 dollar untuk warga lokal dan sekitar $10 Dollar untuk warga asing (jujur ini sebenarnya terlalu murah bagi warga asing).

Sesuai namanya, Museum Pasifika juga memuat koleksi dari banyak negara dari Asia Pasifik. Ruangan lainnya berisi karya-karya lukisan warga Italia yang pernah mengeksplorasi seni di Bali, seperti Renato Chsritiano, Gilda Ambron, dan Piero Antonio Garriazo. Lalu, ruang yang penuh diorama pelukis Belanda yang sempat tinggal di Bali yakni Wilem Gerard Hofker, Isac Israel, dan Hendrik Paulides.

Oh ya bagi yang ingin backpackeran ke Bali, naik bus Transarbagita itu sangat terjangkau. Cukup dengan Rp. 3500 saja bisa sampai ke wilayah yang jauh seperti Batu Bulan. Tak perlu lama menunggu di shuttle bus, Trans Sarbagita yang menghubungkan wilayah Denpasar-Badung-Giannyar-Tabanan (karena itu disingkat Sarbagita), punya banyak destinasi menarik lain. Cek juga websitenya  http://www.baliprov.go.id/Jalur-Bus-Sarbagita-dan-beberapaTrayek-Pengumpan–TP–

Image
Bagian mistisnya, di ruang pamer ini patung-patung purbakala

Sebuah perjalanan sederhana
(Dyah Ayu Pamela)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s