LIFE · story

This is a real life, It’s not Cinderella story

I’m not telling a fairy tale. Not story about Cinderella, Mulan, or Little Mermaid,… when Cinderella meet princes charming, fall in love, then get married. Hey! ini kehidupan nyata yang tidak sesempurna cerita dongeng. There’s no story about it. Dan kenapa sih waktu kecil begitu banyak dongeng indah dari film-film yang ditujukan buat kita?

Kenyataannya selalu ada pertemuan, berteman, mungkin baru dalam taraf suka, lalu mungkin jatuh cinta. (Dan di versi gue, belakangan di masa dewasa jatuh cinta itu tidak semudah saat remaja). Tapi berkembang, ternyata punya banyak kesamaan dan daya tarik satu orang untuk orang lain dan sebaliknya itu memang Allah yang kasih lho… bukan sesuatu yang dibuat-buat.

Tapi perjuangannya, kemudian di pertengahan ada masa-masa patah hati, mengobati kesedihan, nggak cocok, putus, melapangkan, lalu bukan hanya sekali dua kali seperti ini. Berlangsung beberapa kali, sampai galau, mungkin galau terakhir gue ya di usia seperempat abad itu.. sampai suatu ketika kita bakal yakin pada satu orang (katanya sih).

Ya,… intinya kehidupan ternyata harus jungkir balik, bukan hanya pekerjaan tapi juga cinta. Dan… jangan menjadi orang paling sedih di dunia, karena bukan hanya satu atau dua orang yang mengalami. Kadang hal positifnya kita memang harus mengalami hal-hal demikian karena perlu belajar.

karikatur by daekazu
karikatur by daekazu

Geng cumi sebut saja (Dwi, tika, lala), sekitar dua tahunan yang lalu suka kongkow melepas penat di malam hari sepulang kerja . Curhat soal kehidupan cinta yang tak semulus jalan Jakarta – Panarukan era Deandeles, kolonial Belanda. Semua akibat kebosanan kita ketika ditanya soal kapan nikah dari orang-orang sekitar. Padahal dan padahal waktu itu umur kita belum ada seperempat abad, tapi hebohnya orang-orang dengan perhatiannya. Bisa dibayangkan?

(mungkin gue yang cukup calm down sama situasi macam ini. Salah ya kalau gue mau traveling kesana kemari dulu, atau sekedar punya pikiran nanti juga ada waktunya)

“Yah ntar jawab aja, yaudah cariin dong solusinya. Biar mereka ikutan mikir dan gak nanya-nanya lagi,” komentar Tika sambil ngubek-ngubek karedok pesenannya.

Lalu obrolan itu akan disambung dengan curhatan lain lagi dan nasehat dari yang paling tua diantara geng cumi. Tetep sih, mengingat tentang pembicaraan itu semua sepertinya adalah angin lalu, yang sudah lewat biarlah lewat. Hanya kita selalu bertanya-tanya, apa yang salah dengan kita geng cumi, karena diantara kita tidak ada yang buruk rupa.

“Elo tuh kalau nanti akhirnya ketemu sama dua atau tiga kriteria dari daftar lo pikir-pikir dulu jangan keburu nolak. Yah, jangan sampe ya kita kena karma karena dulu terlalu banyak nolak,” sambung Lala panjang nggak berenti.

(dan sayangnya bagi gw pribadi dalam hal cinta nggak ada yang namanya daftar kriteria)

Akhirnya dari tiap relationship yang dibangun semua hanya karena soal waktu. Kapan bertemu orang yang tepat di saat yang juga tepat. Lalu bila sudah ketemu orang yang tepat, bukan berarti masalah selesai, dan ada kata-kata happy ever and after, sayangnya tidak. Masih banyak jalur hidup yang perlu dilalui, kita masih harus belajar dan belajar lagi.

Jadi terasa nyata sekali lirik lagu Maliq D’essential ini “Inilah kita, di satu masa, di realita,” meski bukan mengartikan seluruh pesan lagunya. *sigh*

dan kembali lagi bahwa hidup adalah sebuah proses, bukan seperti kalau lagi mau makan mie instant. *never give up Pam*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s