JAVA - Indonesia · KEPULAUAN SERIBU - Indonesia · story · Traveling

Kepulauan Seribu, Destinasi yang Masih Harus Berbenah

Screenshot_2013-09-09-20-53-14

Di depan saya semua tampak tak bertepi, hanya ada hamparan air, cermin langit yang menjadi biru warnanya. Pemandangan lain adalah kapas kapas putih awan yang kali itu tidak berbentuk apa apa. Rambut kami bisa saja ikut terbawa, karena hembusan angin. Tapi masing-masing telah menempaskan dirinya dari semilir udara dan terik matahari. Mungkin karena capek, banyak juga yang tertidur dan melewatkan suguhan alam tadi.

Kemudian rasanya saya sangat kecil, dan bumi yang sudah lebih dari seperempat abad tempat berpijak ini menjadi demikian luas. Rasanya tak sia-sia karena memiliki waktu sebagai kesempatan yang diberikan oleh-Nya untuk menjelajah dan lebih memaknai kehidupan.

Tepatnya kami sedang berada di dek perahu paling depan. Tapi ini bukan sembarang perahu, hanya perahu kayu reguler sederhana yang seorangnya hanya dikenakan tarif Rp.30 ribu sekali jalan dengan waktu tempuh 3 jam perjalanan. Ketika itu perjalanan pulang kembali menuju Pelabuhan Muara Angke. Suatu tempat yang jika kamu sandingkan mungkin mirip sekali dengan pasar ikan di Kramatjati. Becek, amis dan bau anyir ikan.

Tidak seperti biasanya, saya berpergian ala backpacker. Bukan menginap di hotel, bukan naik kapal bagus, bukan juga makan di restoran mahal seperti kalau saya liputan yang disponsori lembaga atau pengundang. Atau tidak seperti waktu saya vacation ke Phuket dan KL yang masih menikmati kamar mandi private berdua di sebuah hotel kelas tiga. Jauh beda, tapi semua itu tidak mengurangi semangat saya menikmati moment yang bernama jalan-jalan.

image

Justru entah bagaimana anehnya menurut saya backpacker itu seru, seperti kekagetan saya waktu harus naik kapal reguler kayu. Nggak kebayang banget becek-becekan di Muara Angke, lompat dari perahu satu ke perahu lain, dan lelongsorang di dalam kabin, tegeletak begitu saja, dan tidur di lantainya. Dan entah kenapa tidur saya justru lebih nyenyak daripada malam kepergian hari itu. Saat bangun, tahu-tahu sudah sampai di Pulau Pramuka, tempat menginap sebelum menuju pulau lainnya. Tiga jam lamanya akan sangat terasa kalau nggak tidur.

IMG_20130820_183049
Di Pelabuhan Muara Angke

Di Pelabuhan Lama Muara Angke, kapal yang tersedia adalah jenis kapal kayu. Kapal ini tersedia setiap hari dengan waktu keberangkatan pukul 07.00 WIB. Inilah kapal yang saya tumpangi bersama 13 teman-teman backpacker lainnya. Mereka benar-benar baru saya kenal hari itu. Sudah lama saya kepingin banget ke Kepulauan Seribu, tapi mungkin memang baru saat inilah kesampaian waktunya. Tepat di hari kemerdekaan, 17 Agustus 2013, dekat sekali dengan weekend dan masih ada bau-bau libur lebaran. Makanya nggak heran ramai banget pelabuhan Muara Angke pagi itu.

Adzan subuh baru saja berkumandang. Pukul 05.00 pagi saya berangkat bareng dengan 5 backpacker termasuk Ika, temen SMP saya, yang akhirnya ketemu lagi setelah sekian lama mengembara dan memiliki kehidupan dimana-mana. Backpacker lainnya adalah Prita, yang kata Ika bisa kenal waktu backpacker  ke Karimun Jawa, ada Wendra atau yang dipangil sama teman-teman dengan sebutan Papap (kalau ini sebenarnya panggilan sejoli dari Ika). Lalu ada sepasang sejoli lainnya, Hatni dan Made. Cap cus, kendaraan kami melaju kencang melewati jalan tol menuju Pelabuhan Muara Angke yang ternyata jauh dari rumah Ika. Tapi sebenarnya terasa jauh karena macet di dekat perempatan menuju Muara Angke. Selama perjalanan radio tape dan MP3 adalah senjata ampuh pengusir bosan, terkadang seorang dari kami menimpali sebuah lagu dan membahasnya. Oh ya, di Dermaga Muara Angke saya juga bertemu Maya, Amoz, Raisa, dan Yacov.

Jika tidak ingin tertinggal perahu reguler, datanglah sebelum pukul 07.00 WIB. Sebab, ada banyak orang yang ingin menumpang kapal kayu. Kapal aja sudah penuh saat saya dan teman-teman tiba jam 06.00 pagi. Ika yang memiliki usaha travel agent Wisata Pesona dan memberi kami diskon untuk kepergian hari itu mengkoordinir dan mengarahkan kami untuk langsung naik. Nggak heran kenapa begitu penuh, karena penumpang kapal ini bercampur antara penduduk asli pulau dengan wisatawan. Biasanya, mereka sudah datang sejak pukul 06.00 WIB. Karema itu, lalu ada pasangan sejoli lainnya yang ketinggalan kapal. Jadi kami ketemu Fadil dan Riri di Pulau Pramuka.

IMG_20130817_234226
Di Pulau Karya, warna Pantainya turquoise biru kehijauan, cantiknya

Sebenarnya untuk menuju Kepulauan Seribu ada banyak jenis kapal yang bisa ditumpangi. Mulai dari kapal kayu hingga kapal jenis kerapu. Khusus yang ingin lebih segera sampai, ada kapal cepat sejenis Yacth. Lokasi keberangkatan pun cukup banyak, mulai dari Muara Angke, Muara Kamal dan juga Pelabuhan Marina Ancol. Di Muara Angke, ada dua pelabuhan yang bisa digunakan, diantaranya pelabuhan lama dan pelabuhan baru atau Kali Adem.

Seperti Elfa Putri, teman saya sesama reporter yang pernah pergi ke Kepulauan Seribu, tepatnya di Pulau Macan. Beruntung dia pergi dengan jenis kapal Yacth yang sangat nyaman. Untuk naik Yacth pelabuhan yang dituju adalah Marina Ancol. Fasilitas di dalam Yacth selain ruangan ber-AC, sofa nyaman dengan kulit ada pula DVD dan Televisi supaya tidak bosan dan cukup dengan 1,5 jam perjalanan kapal Yacth ini akan mencapai pulau. “Saat melewati dermaga kondisinya kotor dan bau sampah, tapi setelah itu pemandangnya indah banget, di belakang pulaunya aja indah,” seloroh Elfa yang bilang kalau Pulau Macan itu  seperti pulau penjaga.

Untuk naik Yacth yang nyaman, sudah pasti sangat mahal. Kalau bukan karena dibayarin saya juga akan mikir 5 kali. Saya bingung, kenapa ya di Indonesia pariwisata jadi mahal banget. Ya, selain karena infrastrukturnya minim, what the heel kemana aja pemerintah berinfestasi untuk infrastruktur?. Dulu Presiden kedua kita yang hampir 35 tahun berkuasa, sangat mengedepankan infrastruktur sampai banyak melakukan pinjaman sama IMF. Sekarang mungkin APBN banyak dipakai untuk subsidi BBM ya?

Kalau membandingkan dengan keliling Kepulauan Seribu dengan Phuket, Thailand. Sebagai pelancong asing misalnya saya pasti akan lebih memilih untuk menghabiskan uang saya di Phuket. Di Phuket untuk keliling 3 pulau seharian dengan canoeing bisa didapatkan hanya dengan 800 Bath atau sekitar Rp. 300 ribu-an. Kita akan dijemput dan diantar ke hotel dengan minivan lalu perahu yang saya naiki adalah sejenis speed boat, dengan pemandu, dan makan siang di sebuah restoran dekat pulau. Memang belum termasuk harga membeli tiket pesawat, lalu juga biaya hotel.  Bandingkan dengan saya yang pergi ala backpacker ke Kepulauan Seribu dengan merogoh kantong sekitar Rp. 250 ribu untuk 2 hari 1 malam, meski sudah termasuk bermalam di hostel, makan 2 kali sehari dan barbekyu malam harinya. Entahlah sebenarnya kurang sepadan dan sulit dibandingkan keduanya.

Hal yang saya khawatirkan sebenarnya transportasi dari dan menuju Kepulauan Seribu untuk jenis kapal reguler. Kelihatan sekali kondektur kapal suka memaksakan penumpang tetap naik, meski kapal sudah penuh. Jelas ini berbeda sekali dengan metromini di kendaraan darat, ini laut yang saya tidak bisa membayangkan bila sampai terjadi kecelakaan laut dan membahayakan keselamatan penumpang. Apa jadinya bila sampai terjadi, kembali cacatlah pariwisata kita.

Padahal pariwisata itu memiliki multiple effect. Bila suatu daerah dapat memanfaatkan potensi ini, masyarakatnya sudah dapat dipastikan memiliki sumber pendapatan ekonomi. Bukan hanya objek wisatanya, makanan, budaya, serta aspek lain yang akan jadi daya tarik suatu destinasi. Kata-kata ini masih menggelayut dan terus saya ingat. Kata-kata yang terlontar waktu wawancara, ikut liputan ke daerah, dan melihat sendiri buktinya. Kata-kata Pak Sapta Nirwandar dulu waktu saya liputan bidang pariwisata itu masih jadi Dirjen Pemasaran di Kementerian Pariwisata, dan kini sudah jadi Wakil Menteri di lembaga yang sama.

Tapi bagaimana jika yang sekarang terjadi adalah berbagai tempat di Indonesia yang indah ini sangat minim infrastruktur. Semua keindahan ini harus digapai dengan harga yang lebih mahal. Karena mahal akhirnya orang-orang kita lebih suka jalan-jalan ke luar negeri daripada menjelajah negeri sendiri. Dulu pernah ada kampanye “Masyarakat Sadar Wisata” lalu pemerintah juga menggelontorkan dana untuk PNPM Mandiri bagi pengembangan Desa Wisata. Tapi kenapa terkesan lamban ya, sesampainya di Pulau Pramuka yang telah memiliki Puskesmas itu saya melihat ada sebuah plang PNPM Mandiri dan itu tertanda tahun 2012. Kalau tidak salah, Desa Sade di Lombok, NTB justru sudah sejak 2010 menerima PNPM. Padahal Kepulauan Seribu kan lebih dekat dari pusat ibu kota.

Kepulauan Seribu itu menurut saya masih terbilang bagus banget. Secara dekat dari Jakarta, kalau nggak punya ongkos ke Bali. Kalau kangen sama pantai dan laut berwarna turquoise pergi aja ke sini. Pulau yang saya kunjungi, Pulau Karya dan Pulau Semak Daun salah satunya. Pasirnya putih, ikan-ikan kecil di pinggir pantai, lalu seperjalanan pulang ke Pulau Pramuka saya ketemu Penyu yang lagi melompat, huuuaa senangnya. Tapi, tetap satu dua hal yang disayangkan. Sampah, bahkan sampah sepatu dan tas rongsok saya menemukannya di kedua pulau ini. Kemudian sedikit ilfil sama bau anyir dan amis ikan di pelabuhan.

Pertama kali backpacker

(Dyah Ayu Pamela)

Advertisements

2 thoughts on “Kepulauan Seribu, Destinasi yang Masih Harus Berbenah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s