story · The Journey

Napoleon Pernah Berkata, . .

IMG_20130816_212818
Waktu liputan sengketa tanah ulayat di Papua

“Napoleon pernah berkata,…

Kursor dilayar chating masih berkedip, seperti akan menulis beberapa kata lagi. Sepersekian menit, mungkin teman ku ini masih mengoreksi ulang apa yang mau ditulisnya. Kemudian muncul serentetan kalimat panjang yang belum pernah ku ketahui.

“Lebih baik aku dihadapkan pada seribu prajurit pasukan perang, daripada harus berhadapan dengan seorang wartawan,”

“Maksudnya apa ya kata-kata ini,” tulisnya lagi sedetik, dua detik, lima detik aku tak bergeming. Namun dengan asal kemudian mengetik seberangkai kata.

“Mungkin karena wartawan itu terlalu banyak mau tahu, jadi si Napoleon nggak suka sama wartawan,” Jawaban asal-asalan sebenarnya.

Tapi aku tidak ingin bisa langsung ditebak. Aku tahu dia cerdas, dari cara bicara dan berkata-katanya menyimpan satu makna. Oke, aku tidak bisa melupakan soal chatingan di facebook tadi, yang sudah berlangsung sekian tahun ketika aku baru diwisuda. Kata-kata Napoleon tadi sangat membekas dibenakku setelahnya dan hingga sekarang. Kata-kata yang menurut penafsiran ku adalah lecutan semangat. Lagi-lagi aku mengutuki diri sendiri karena belakangan sebelum obrolan di facebook itu hampir menggadaikan impian sejak SMP itu. Menjadi wartawan, menulis di sebuah majalah mode.

Waktu remaja aku udah suka banget baca majalah Gadis atau Kawanku, kadang juga melihat majalah yang dibaca mama (Femina atau Kaptini) selain sederet buku di perpustakaan sekolah. Aneh juga kalau mengingatnya, karena ternyata sekarang benar-benar menulis untuk halaman mode atau yang lebih populer disebut fashion. Walau bukan di media periodik bulanan atau mingguan seperti majalah, tapi sebuah surat kabar nasional yang cakupan bidang liputannya justru lebih luas.

Barangkali memang sesuai yang aku ingin waktu bercita-cita saat remaja. Tapi ada sempat rasanya seperti tersesat waktu aku dirolling ke divisi pemberitaan lifestyle. Rasanya asing berada diantara reporter liputan bidang lifestyle. Sangat berbeda dengan teman-teman di liputan hard news macam di DPR atau di liputan berbau sosial pemerintahan.

Biasanya liputan berpakaian ala adarnya dengan kemeja simpel berikut celana jeans dan sepatu nyaman tanpa heels tiba-tiba menjadi sangat kontras pada lingkungan yang hetic ala reporter majalah lifestyle. Sampai susah membedakan mana yang tamu undangan. Waktu itu trend lipstik merah merona lagi jadi style yang hits dan kemudian mereka yang hadir di acara launching produk salah satu jeans itu penuh dengan wanita-wanita bergincu merah berdarah. Awwwww. Hopelesss, tolong keluarkan saya dari sini. Belum lagi layaknya sebuah acara yang dikemas ala party itu menyediakan minuman macam alkohol.

To be continue, . . .

Belakangan, ya tidak terlalu peduli dengan style orang-orang, dan justru menikmati mereka yang berdandan stylist. Ya, sejujurnya ingin balik lagi ke lingkungan dengan desk yang agak serius. Ya, tapi kalau ingat gimana ritme kerjanya, mikir 3 kali. Paling gak lokasi rumah harus dekat Jakarta, menghilangkan durasi capek dan desakan deadline yang rapih. setiap hari aku harus nyiapin bahan dan nggak boleh lengah isu terkini. Dan siap-siaplah dengan badan yang rontok bila keluar kota sebulan dua kali atau mungkin lebih. Sebenarnya menyenangkan, tapi bukan prioritas hidup sekarang.

<!–more–
image

I love my job

(Dyah Ayu Pamela)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s