LIFE · Liputan · story

Liputan Paling Konyol, Paling Aneh,,.

Gw pernah hampir kehilangan koper di hotel, hari yang begitu sialnya, bencana pertama dimulai dengan pesawat SQ (Singapore Airways) yang rusak. Nahlo, kok rusak? Entahlah. Padahal penumpang udah boarding loh, gw bahkan udah duduk nyaman, dikasih lap hangat buat tangan, eh masa geret koper lagi masuk ruang tunggu.

Sampai akhirnya gw dan fotografer dari Kompas delay lay, hampir sejam kemudian ditransfer ke pesawat SQ lainnya. Jadilah telat sampai dari jadwal dan ketinggalan agenda awal, meninggalkan koper di hotel dan langsung melanjutkan liputan berikutnya. Sore hari sebelum gala dinner itulah, bencana lain datang, oh tidakkkkk….koper merah nggak ada di kamar.

image
Sebelum cokelat dari panitia AFX 2013 itu dimakan, foto dulu buat kenang-kenangan ūüôā

Usut punya usut, ternyata gw salah kamar, salah menaruh koper, karena terburu-buru untuk shalat Ashar dan kembali ke tempat liputan. Ya jelas aja balik ke hotel kopernya gak ada. Usai sore yang mengerikan itu, Min Wei, humas dari PR Agency yang menangani wartawan disana mencoba membantu, dan humas dari Indonesia yang setumpah darah satu Indonesia malah cuekin gw. *sambil kesel sambil mengumpat dalam hati* Min Wei lalu bilang ke resepsionis hotel agar koper gw dicarikan, dia coba menenangkan.

Kirain beres, tapi selepas dinner dan mengunjungi butik Carolina Herrera di Marina Bay Sands terus kembali ke hotel, nggak juga menemukan koper merah gw itu, mau nangis rasanya. Via telepon hotel gw tanya lagi ke resepsionis, dan bilang koper kok belum ada juga. Nah ini dia saat-saat terbodoh dalam menggunakan bahasa Inggris ketika panik, meracau yang tidak jelas, gw kembali ke lobi dan bertemu lagi sama Min Wei, lagi-lagi dia yang bantu bukan humas dari Indonesia. *plokkkkkkkkkkkkk

Sesi liputan konyol dengan embel-embel gila berbahasa adalah saat wawancara dengan salah satu pimpinan organisasi desainer di Singapura, namanya David Wang. Kebiasaan gw kalau liputan dari dulu adalah diam-diam nyusup dikerumunan, cari narsumnya terus ngajak ngobrol bahasa lainnya doorstop. Disana gw juga melakukan hal yang sama, habis fashion show desainer-desainer muda, Tent Marina Promade penuh riuh sama pendukung peserta. Disela-sela itu deketinlah David Wang, sekalian ngajak fotografer dari Kompas Bang Hendra.

“Excuse me,… Mr. Wang, I’m Dyah from Indonesia, can i ask some question,” kata gw memulai percakapan.

“oh ya, of course,” sahut pria tinggi bermata sipit itu.

“Umm, boleh tahu alasan mengapa juri memilih Hafidz sebagai pemenang Audi Star Creations?” Gw mulai mengajukan pertanyaan.

“Hafidz membuat menswear dengan amat baik, terlihat simpel dan bisa dikenakan (ready to wear), saya pikir tidak banyak orang yang bisa membuat pakaian pria dengan satu konsep seperti itu. Terlihat beda namun simple,” jelas Wang panjang

Terus gw mengajukan pertanyaan berikutnya, namun agak terbata-bata. Mungkin karena grogi banget waktu itu, fotografer disebelah gw pun tidak banyak membantu komunikasi ini. Dia malah mengernyitkan dahi, tapi sejurus kemudian Mr. Wang berusaha mengerti maksudnya.

“Do you mean, i like him,? Padahal maksudnya apakah Hafidz ini difavoritkan atau dijagokan para juri. Karena kesalahan pertanyaan tadi Mr. Wang lantas tidak mengacuhkan , dia sangat ramah dan justru menambahkan pendapatnya tentang finalis lainnya yang juara ke-2. kemudian pertanyaan singat lain mengalir, begitu juga saat mewawancarai Hafidz sebagai juara. Perasaan sedikit lega.

Liputan di hari berikutnya, ternyata gw ketemu lagi dengan Mr. Wang di Milenia Walk, salah satu butik tempatnya desainer muda dari Singapura. Dan tebak, dia sudah hafal dengan wajah gw juga fotografer dari Kompas. “Hai, kamu berdua yang kemarin kan,” sapanya sambil menunjuk gw dan Hendra.

Kalau kita sudah paham apa yang harus dilakukan saat conversation dalam bahasa Inggris, kemampuan untuk melafalkan dengan benar dan mendengarkan adalah kemampuan yang tidak bisa ditawar-tawar. Harus diasah setiap kali, setiap waktu. Dan kelemahan gw lafaznya suka nggak tepat terus suka grogi (pingin nyebur laut rasanya). Sedikit lega, di hari selanjutnya, saat wawancara desainer legendaris asal Venezuela, Carolina Herrera gw bareng-bareng dengan wartawan lainnya. Pasang tape recorder dan dengarkan baik-baik apa yang dibicarakan.

Sepulang dari liputan di Singapura, gw baru mengabari Anant, seorang teman Indian yang pernah jadi guide dadakan waktu liburan di Singapura kemarin. Dia sedikit marah-marah karena gw nggak mengabari kalau lagi disana. Via facebook gw bilang kalau kemarin ke Singapura, tapi bukan untuk liburan, kerja.

“And you dont even tell me,” tulisnya, sambil mencak-mencak.

” Where did you stay,” tanyanya lagi. (Kayaknya dia khawatir gw ngegembel seperti waktu ke Singapura kemarin, padahal ini nginep di Raffles Hotel)

Habis itu gw jelasin semuanya, kalau tidak memungkinkan untuk bertemu dia. Yang benar saja, gw liputan dari jam 9 pagi dan baru pulang dinner jam 9 malam. Remuklah dengan jadwal 5 hari itu. Belum lagi harus langsung menuliskannya untuk terbit halaman besok.

“Next trip Anant,” balas gw.

“Oh, sure, sure,” tulisnya.

Tapi ya, abis itu gw nyesel nggak ketemu Anant pas mumpung bisa kesana walau kerja. Soalnya sebulan kemudian, si jahil ini pindah ke NY buat lanjutin sekolahnya. -___-”

Kali beikutnya, pengalaman liputan yang agak konyol adalah saat seorang desainer Kanada baru membuka butiknya di Galeries Lafayette Indonesia. Peter Nygard, pria yang sudah berusia 70 tahunan ini memang tidak mudah diajak bicara. Gw deg-deg an minta ampun, saat baru sampai di rumah Dinas Duta Besar Kanada, siang itu. Semalam sebelumnya gw riset background Mr. Nygard ini via internet. Daftar pertanyaan sudah disusun jauh hari sebelum dia sampai Jakarta. Dan tibalah saat dramatis itu, mungkin Mr. Nygard ini memang sosok seorang kakek baik hati, yang tidak mempermasahkan didepannya jurnalis muda usia 20-an dan anggaplah sebagai cucu yang banyak bertanya kepada kakeknya.

Obrolan siang selama 30 menitan itu akhirnya diakhiri tawa dan nasehat. FYI setelah pertanyaan habis, gw lalu menanyakan soal gym center yang ada di tiap gedung kantornya. Bocoran dari mas-mas humas kedutaan, kalau Nygard ini sangat concern dengan hal ihwal kesehatan. Bahkan dia membuat penelitian untuk suatu teknologi yang bisa membuat awet muda (Steam Cell). Justru pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan fashion ini yang membuat dia tertarik.

“Saya ingin pegawai saya mengenal bagaimana hidup sehat, karena itu ada fitnes center di kantor saya,” seloroh Mr. Nygard.

“Oh, ya Anda concern sekali ya dengan kesehatan,” balas gw, sedikit memuji.

Humas kedutaan kemudian memperingatkan, kalau waktu wawancara sudah habis. Lalu Mr. Nygard kembali berkata-kata.

“Coca cola tidak baik untuk mu, rokok juga tidak baik untukmu,” pesannya menutup perbincangan.

“Oh yes, im not smoking and i don’t like drinking coca cola,” sahut gw kemudian sambil menjabat tangan dan bilang terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s