JAVA - Indonesia · Traveling

Senja Eksotis di Pantai Indrayanti

Langit mulai memerah, gradasi warna matahari ketika mulai menyingsing. Menemani senja eksotis di Pantai Indrayanti, alunan tembang orkestra jawa oleh sekumpulan pria berpakaian adat lengkap dengan blangkon nya seolah mengantarkan perlahan pada putaran waktu baru bernama malam.

Kini langit genap menjadi gelap. Hanya tinggal temaran kilat-kilat lampu obor. Setelah menikmati hidangan sea food ala Gunung Kidul, kami pun beranjak pulang. Puas rasanya menikmati senja saat itu, jauh dari ekspektasi saya saat berangkat ke tempat ini.

IMG_2036
Pasir Pantai Berwarna Kecokelatan Menjadi Daya Tarik Pantai Indrayanti

Saya tidak terlalu antusias saat ditugasi kantor liputan ke Gunung Kidul, Yogyakarta. Tapi tak disangka-sangka justru cerita penjelajahan kali itu amat menarik, menemukan pantai yang terselip di Jawa sekaligus mengenal potensi pangan lokal yang ternyata ada rentetan sejarahnya.

Jujur saya baru tahu kalau ada pantai sebagus ini di Pulau Jawa. Pasirnya memang tidak berwarna putih bersih, tapi cenderung kecokelatan. Meski juga pasirnya tidak begitu halus, tapi menurut saya ini pantai paling indah yang pernah saya temukan di Yogyakarta. Desiran ombak melandai-landai dan batu karang tinggi menjadi suguhan utamanya. Meski tampaknya tidak sekeren pantai lain dengan banyak atraksi permainan air. Namun sudah ada restoran yang menyediakan menu sea food, cukuplah sebagai tujuan wisata.

Pantai Indrayanti berjarak 70 km dari Kota Yogyakarta, butuh perjalanan sekitar 2 jam untuk mencapainya. Pantai ini terletak di Desa Tepus, Wonosari, Gunung Kidul. Cukup mudah untuk menjangkau tempat ini, hanya melewati beberapa pantai lainnya seperti Krakai, Baron, Kukup, Drini, dan Sundak. Mencapai tempat ini juga melewati jalanan berputar-putar, yang hanya bias dilewati 2 mobil. Sepanjang perjalanan saya banyak menyaksikan pemandangan batu kapur, karang-karang tinggi diantara banyaknya Pohon Jati. Tak perlu jauh-jauh ke Bali untuk menikmati Pantai Kuta, bagi masyarakat Yogyakarta inilah Kuta.

Sebenarnya Pantai Indrayanti ini bernama Pantai Pulang Syawal atau disingkat Pantai Pusal. Indrayanti adalah nama pemilik kafe dan restoran di dekat pantai, namun entah kenapa nama Indrayanti jauh lebih populer dari nama aslinya. Saya baru ingat, sekitar satu setengah tahun yang lalu juga pernah ke Gunung Kidul untuk liputan yang berbeda. Bertemu pantai dan nelayan, warga transmigrasi lokal, satu sudut terpencil lain bagi awam untuk menjangkau tempat ini.

Jauh sebelum mencapai Pantai Indrayanti hampir seharian itu sebenarnya saya keliliIMG_1847ng wilayah Gunung Kidul. Misi utamanya untuk jelajah gizi dan edukasi pangan lokal penduduk setempat. Sejak pukul 7 pagi pesawat kami sudah take off dan sesampainya di Bandara Adisucipto, Yogyakarta saya langsung diboyong panitia yang mengundang media dan para blogger ke lokasi utama, Desa Sambirejo, kawasan Gunung Kidul.

Mendengar  namanya saja, hampir semua orang Indonesia tahu kalau Gunung Kidul ini daerah yang dulu sempat mengalami masa susah pangan di era penjajahan Belanda. Sampai-sampai penduduknya secara kreatif mengolah sumber pangan yang ada untuk bertahan. Makanan seperti Tiwul, nasi merah dan Gatot  berasal dari sini. Penduduknya mengolah umbi-umbian juga Belalang untuk dikonsumsi. Disini saya sempat mencicipi Belalang dan jangan tanya rasanya, juga kenapa terpikir untuk memakannya?  Karena kata Prof. Ahmad Soelaeman, dosen IPB yang jadi narasumber, Belalang sumber protein tinggi bisa untuk pengganti daging. Hitung-hitung untuk penduduk Gunung Kidul yang sebagian besar jarang ketemu daging ya makan Belalang ini. Di Gunung Kidul, Belalang memang banyak sekali ada di sekitar pohon jati, ukurannya juga besar-besar. Saya terpanah dengan penjelasan Prof. Ahmad Soelaeman, nggak nyangka kandungan-kandungan pangan lokal tadi bisa untuk pemenuhan gizi. Apalagi dari segi kesehatan, sekarang ini bahan pangan yang tersedia benar-benar sudah tercemar. Penggunaan pestisida sudah berkali lipat dari tahun-tahun sebelumnya.

Kali berikutnya, saat liburan keluarga ke Yogyakarta, saya kembali menyambangi Pantai Indrayanti. Tapi pertengahan tahun yang merupakan musim liburan membuat pantai ini sangat ramai dari biasanya. Ada banyak bus singgah, mengangkut siswa-siswi yang berdarmawisata.  Agak menjauh kesebelah timur dari pantai utama, saya menemukan lagi bagian yang belum sempat saya datangi. Karang-karang dibalik batu ini ternyata diatasnya memiliki bukit. Itu memang bukan satu-satunya bukit, disebelah barat dari bibir pantai juga ada satu bukit yang jauh lebih tinggi, sayang bila tak disambangi.

Advertisements

3 thoughts on “Senja Eksotis di Pantai Indrayanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s